Filsafat Pendidikan Sejarah

Sejarah Singkat Lahirnya Filsafat Pendidikan


Sering orang tak sadar betapa filosofi yang digunakan dalam pengembangan pendidikan sejarah berpengaruh dan menentukan mengenai berbagai aspek pendidikan sejarah terutama tujuan, materi, proses, dan evaluasi hasil belajar.

Perubahan dan pengembangan kurikulum pendidikan sejarah, dan pendidikan lainnya juga, menunjukkan bahwaorang lebih mempedulikan perubahan pada materi ajar,proses, dan terkadang evaluasi tidak pada perubahan dalam filosofi. Padahal filosofi itu yang menentukan arah, materi, proses, dan hasil pendidikan sejarah.

Sejarah Filsafat
Sejarah Filsafat

Perubahan materi, proses, dan alat evaluasi tanpa mengubah filosofi hanya akan mengubah aspek-aspek pendidikan sejarah tersebut dalam label-label dan tidak dalam hakiki dari perubahan yang dirancang.

Label-label tersebut akan dibaca dan diartikan dalam makna sebagaimana sebelumnya yaitu filosofi yangdigunakan oleh para pengembang kurikulum ketika melakukan konstruksi dokumen kurikulum.

Oleh para guru yang mengajar sejarah ketika merealisasikan rancangan dalam dokumen kurikulum menjadi realita kurikulum, dan ketika melalukan asesmen terhadap hasil belajar pendidikan sejarah yang dimiliki peserta didik.

Oleh karena itu sebagian problematika pendidikan sejarah disebabkan oleh perubahan kurikulum baik dalam bentuk dokumen terlebih lagi dalam bentuk proses pembelajaran tidak diwarnai oleh perubahan pandangan filosofi.

Label-label baru yang digunakan dalam kurikulum pendidikan sejarah tidak memiliki makna sebagaimana label itu diartikan dalam pandangan filosofi yang menghasilkan label tersebut. Akibatnya, pendidikan sejarah tidak mengalami perubahan walau pun “perubahan” kurikulum telah dinyatakan terjadi. Kurikulum baru menjadi kurikulum lama dalam jiwa tetapi baru dalam nama/label.

Pandangan filosofi yang mendominasi pendidikan sejarah adalah esensialisme yang menghendaki sejarah diajarkan dalam bentuk utuh disiplin ilmu sejarah. Ketika terjadi perubahan kurikulum pada tahun 1975 dan kemudian tahun 1984 dan 1994 maka ada upaya untukmengubah pandangan filosofis yang digunakan.

Kurikulum 1975 menggunakan pandangan perenialisme yang memperkenankan adanya mata pelajaran yang tidak lagi menggunakan label murni disiplin ilmu sehingga ada IPA dan IPA untuk kurikulum SD, SMP, SMA, dan SMK.

Sayangnya, perubahan ini tidak dikembangkan sebagai suatu kesadaran sebagaimana yang dikemukakan Oliva (1997) di atas sehingga guru mengalami kesulitan dalam menerapkan kurikulum IPS dimana sejarah menjadi salah satu komponen penting IPS.

Pada tahun 1984 kebijakan kurikulum mengambil sikap yang berbeda dimana untuk SD dan SMP digunakan pandangan filosofis perenialisme sedangkan untuk SMA digunakan filosofi esensialisme.

Kurikulum SMK tetap menggunakan filosofi perenialisme. Posisi filosofi untuk kurikulum 1984 dipertahankan pada waktu kurikulum 1994 dikembangkan. Permasalahan yang sama terjadi sebagaimana pemaknaan filosofi pada kurikulum 1975 dan 1984 sehingga perubahan filosofi adalah kembali kepada sudut pandang filosofi esensialisme walau pun namanya adayang perenialisme dan oleh karena itu sejarah diajarkan terpisah dari komponen ekonomi dan geografi.

Jadi dalam realita sejak 1975 tidak terjadi perubahan pandangan filosofi bahkan guru mendesak agar sejarah tetap diajarkan secara terpisah sebagai sejarahdan tidak sebagai bagian dari IPS

4. Perkembangan Pemikiran Filsafat Spiritualisme Kuno


Dari uraian diatas dapat diketahui filsafat mulai berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi semacam pendekatan perekat kebali sebagai ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan lainnya. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa filsafat berkembang sesuai perputaran zaman.

Paling tidak, sejarah filsafat lama membawa manusia untuk mengetahui cerita dalam katagori filsafat spiritualisme kuno. Kira-kira 1200-1000 SM sudah terdapat cerita-cerita lahirnya zarathusthra, dari keluarga sapitama, yang lahir ditepi sebuah sungai, yang ditolong oleh ahura Mazda dalam masa pemerintahaan raja-raja akhamania (550-530 SM).

Timur jauh Yang termasuk dalam wilayah timur jauh ialah Cina India dan jepang. Di India berkembang filsafat spiritualisme, Hinduisme, dan Buddhisme. Sedangkan di Jepang berkembang shintoisme. Begitu juga di Cina berkembang, Taoisme, dan Komfusianism.

1. Hinduisme


Pemikiran spiritualisme Hindu adalah konsep karma yang berarti setiap individu telah dilahirkan kembali secara berulang dalam bentuk manusia atau binatang sehingga ia menjadi suci dan sempurna sebagai bagian dari jiwa universal ( reingkarnasi ). Karma tersebut pada akhirnya akan menemukan status seseorang sebagai anggota suatu kasta.

Poedjawijatna (1986:54) mengatakan, bahwa para filosof Hindu berpikir untuk mencari jalan lepas dari ikatan duniawi agar bisa masuk dalam kebebasan yang menurut mereka sempurna.

2. Buddha


Pencetus ajaran Buddha ialah Sidarta Gautama ( Kira-kira 563-483 SM ) sebagai akibat ketidakpuasannya terhadap penjelasan para guru Hindu isme tentang kejahatan yang sering menimpa manusia.

Setelah melakukan hidup bertapa dan meditasi selama 6 tahun, secara tiba-tiba menemukan gagasan dan jawaban dari pertanyaannya. Gagasa-gagasan itulah yang kemudian menjadi dasar-dasa agama Buddha ( samuel Smith, 1986:12 ).

Filsafat Buddha berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di Dunia ini terliputi oleh sengsara yang disebabakan oleh “Cinta” terhadap suatu yang berlebihan.

3. Taoisme

Pendiri dari Taoisme adalah Merupakan Leo Tse. Lahir pada tahun di 604M.Tulisannya yang mengandung makna Filsafat adalah jalan tuhan atau sabda tuhan, Tao ada dimana-mana tetapi tidak berbentuk dan tida pula diraba, dilihat,dan di dengar.

Manusia harus hidup selaras dengan tao, dan harus bisa menahan hawa nafsunya sendidi. Pengertian Tao dalam filsafat Lao Tse tersebut dapat dimasukan dalam aliran spiritualisme.

Dan menurut aliran-aliran filsafat India dan Tiongkok, spirirtualisme itu berkaitan dengan Etika, karena ia memberi petunjuk bagaimana manusia mesti bersikap dan bertindak di dunia agar memperoleh bahagia dan kesempurnaan ruh ( Gazalba1986:60)

4. Shinto


Shinto merupakan salah satu kepercayaan yang banyak dipeluk masyarakat Jepang. Agama Shinto tumbuh di jepang yang sangat respek terhadap alam ( natural ) di sebabkan ajaran-ajaranya mengadung nilai antara lanin kreasi ( SOZO), generasi ( size), pembangunan (hatten), sehingga ia menjadi jalan hidup dan kehidupan dan mengandung nilai optimis.

Melihat ajaran-ajaran pokok moral Shinto yang mengandung makna filsafat yang tinggi diatas, maka tidalah berlebihan jika ajaran-ajaranya mengandung nilai motivasi dan optimistik guru menjadi pegangan bagi penganutnya

Pemikiran Filsafat Yunani Kuno Hingga Abad Pertengahan


Suatu pandangan teroritis itu mempunyai hubungan erat dengan lingkungan di mana pemikiran itu di jalankan, begitu juga lahirnya filsafat yunani pada abad ke-16 SM. Bagi orang yunani, filsafat merupakan ilmu yang meliputi semua pengetahuan ilmiah. Di yunanilah pemikiran ilmiah mulai tumbuh, terutama di bidangfilsafatpenidikan.

Pada masa ini, keterangan-keterangan mengenai alam semesta dan penghuninya masih berdasarkan kepercayaan. Dan karena para filsuf belum puas atas keterangan itu, akhirnya mereka mencoba mencari keterangan melalui budinya.

Misalnya dengan menanyakan dan mencari jawaban tentang apakah sebetulnya ala mini?

Apakah intisari alam ( arche )ini. Arche berasal dari bahasa yunani yang berarti mula, asal.

Oleh karena itu filsuf-filsuf berusaha mencari inti alam, maka mereka di sebut filsuf alam dan filsafat mereka disebut filsafat alam.

Kaum sopis ini pertama kali di Athena. Sofis berasal dari kata sofhos yang beati cendikiawan. Sebutan ini semula diberikan kepada orang-orang pandai ahli filsafat, ahli bahasa, dan lain-lain. Aliran sofis dipelopori oleh protogoras.

Menurut kaum sofis, manusia menjadi ukuran kebenaran : tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal, kebenaran hanya berlaku secara individual. Kebenaran itu menurut saya, dan retorika merupakan alat utama utuk memepertahankan kebenaran ( salam, 1982:107).

Dalam sejarah kaum sofis adalah kelompok yang pertama kali mengorganisasi pendidikan kaum muda.

Pemikiran Filsafat Pendidikan Dari Socrates (470-399 SM)


Dalam sejarah filsafat, Socrates adalah salah seorang pemikir besar kuno yang gagasan filosofis dan metode pengajaraanya sangat mempengaruhi teori dan praktik pendidikan di seluruh dunia barat.

Socrates lahir di Athena, merupakan putra seorang pemahat dan seorang bidan yang tidak begitu di kenal, yaitu Sophonicus dan Phaenarete ( smith,1986:19 ). Prinsip dasar pendidikan, menurut Socrates adalah metode dialektis.

Meode ini di gunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan yang di rencanakan untuk mendorong seseorang berpikir cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya.

Seorang guru tidak boleh memaksakan gagasan-gagasan atau pengetahuannya kepada seorang siswa, karena seorang siswa di tuntut untuk bisa mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara keritis.

Dengan kata lain, tujuan pendidikan yang benar adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan di siplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan sestandar moral yang tinggi ( Smith. 1986:25 ).

Pemikiran Filsafat Pendidikan Dari Plato (427-347 SM)


Plato dilahirkan dalam keluraga aristrokrasi di Athena, serikat 427 SM. Semnentara ibunya, periction adalah keturunan keluarga solon, seorang pembuat undang-undang, penyair, memimpin militer dari kaum ningrat dan pendiri demokrasi Athena termuka ( smith, 1986:29). Menurut plato, pendidikan itu sangat perlu, baik bagi dirinya selaku individu maupun sebagai warga Negara.

Negara wajib memberi pendidikan kepada setiap warga negaranya. Namun demikian, setiap peserta didik harus diberi kebebasan untuk mengikuti ilmu sesuai bakat, minat, dan kemampuan masing-masing jenjang usianya.

Sehingga pendidikan itu sediri memberikan dampak dan perubahan bagi kehidupan pribadi, bangsa, dan Negara.

Menurut plato, idealnya dalam sebuah Negara pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang yang sangat mulia, maka ia harus di selenggarakan oleh Negara. Karena pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tidakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran.

Dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar.

Dengan pendidikan pula, orang-orang akan mengenal apa yang baik dan apa yang jahat, apa yang patut dan apa yang tidak patut(Raper,1988:110).

Pemikiran Filsafat Pendidikan Menurut Aristoteles (367-345 SM )


Aristoteles adalah murid plato. Dia adalah seorang cendikiawan dan intelek terkemuka, mungkin sepanjang masa. Umat manusia telah berutang budi padanya oleh karena banyaknya kemajuan pemikiranya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, khususnya logika, politik, etika, biologi, dan psikologi.

Ayahnya, NIchomachus adalah dokter perawat Amyntas II, raja Macedonia, dan ibunya, phaesta mempunyai nenek moyang terkemuka.

Menurut Aristoteles, agar orang bisa hidup baik maka ia harus mendapatkan pendidikan.

Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal memberi bingbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi,yaitu akal, guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, sehingga ia memerlukan dukungan perasaan yang lebih tinggi agar di arahkan secara benar.

Demikianlah informasi tentang, Filsafat Pendidikan Sejarah, Semoga informasi yang sharingkan bermanfaat bagi pengunjung dan pembaca kami. sekian dan Terima Kasih..

0 Response to "Filsafat Pendidikan Sejarah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel