Posisi Pendidikan Sejarah Saat Sekarang

Posisi Pendidikan Sejarah Saat Sekarang
Posisi Pendidikan Sejarah Saat Sekarang

Pengembangan pendidikan terutama kurikulum di Indonesia diwarnai oleh dua pandangan yang dominant. Pertama, pendidikan di Indonesia didominasi oleh pandangan filosofis esensialisme dan perenialisme.

Kedua, pendidikan di Indonesia diwarnai oleh pandangan bahwa bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang menguasai sains dan teknologi.

Keduanya pandangan tersebut makin lama makin mendominasi perubahan kurikulum di Indonesia terlihat jelas dari kebijakan kurikulum mengenai Ujian Negara (UN) dan beban belajar yang dialokasikan untuk setiap mata pelajaran.

Beban belajar yang diterjemahkan dalam bentuk kredit semester (KS) diberikan kepada mata pelajaran matematika dan sains.

Untuk jalur-jalur pendidikan yang masih bersifat umum (belum dalam jalur/streaming) maka mata pelajaran IPA/sains dan matematika selalu mendapat beban belajar yang besar.

Pendidikan matematika dan IPA/sains diprioritaskan sebagai pendidikan yang dapat membawa bangsa ini ke kehidupan yang lebih baik.

Keberhasilan teknologi dan sains dalam kehidupan masyarakat di banyak negara menyebabkan kebijakan pendidikan memberikan prioritas kepada matematika dan IPA/Sains.

Pandangan tersebut tidak salah karena adalah suatu kenyataan bahwa ummat manusia sejak masa awal kehidupan sudah berkenalan dan mengembangkan teknologi. Tidak ada kehidupan suatu masyarakat yang terlepas dan tidak didukung oleh teknologi.

Adalah pula suatu kenyataan bahwa teknologi dihasilkan oleh pengetahuan mengenai benda-benda yang tersedia di alam, pengetahuan tentang cara pemrosesan benda yang tersedia oleh alam menjadi sesuatu yang berubah bentuk dan fungsinya.

Pengetahuan tentang bagaimana suatu benda dapat mengalahkan benda lain seperti logam dapat mengalahkan substansi lain yang lebih lunak, pengetahuan tentang bagaimana memeroses benda yang tersedia oleh alam menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah, dan sebagainya.

Adalah pula suatu kebenaran sejarah bahwa manusia mengembangkan pengetahuan dan teknologi yang semakin lama semakin canggih untuk memanfaatkan apa yang sudah tersedia dari alam menjadi suatu karya besar dalam bentuk bangunan, benda-benda yang menopang kehidupan, dan benda-benda yang meyebabkan kehidupan menjadi semakin indah dan berbudaya.

Meski pun demikian, adalah pula suatu kenyataan bahwa manusia mengembangkan pengetahuan untuk lebih mengembangkan kehidupan dalam organisasi kemasyarakatan yang pada mulanya kecil dan sederhana tetapi makin lama makin luas, besar,dan kompleks.

Adalah pula suatu kenyataan bahwa terjadi pola hidup baru yang semakin kompleks yang bersifat global sebagai dampak dari teknologi dan memerlukan manusia-manusia baru yang harus memiliki cara pandang, sikap, cara berfikir, dan cara bertindakyang baru pula.

Manusia adalah sesuatu yang harus menjadi kepedulian utama karena manusia itu lah yang mengembangkanilmu, teknologi, seni, budaya, politik, dan sebagainya. Manusia ini adalah manusia yang tidak hidup dalam lingkungan yang bebas nilai, norma, dan cita-cita bersama. Nilai, norma dan cita-cita bersama tersebut dikemas dalam bentuk kehidupan kebangsaan dan menjadi identitas bangsa itu.

Betapa pun, bangsa yang kehilangan identitats berarti kehilangan eksistensinya dalam kehidupan ummat antar bangsa.

Oleh karena itu, kebijakan pendidikan yang hanya memperhatikan mengenai apa yang harus dikuasai dan melupakan manusia yang harus memiliki apa tersebut merupakan suatu yang mengandung potensi besar dalam menghilangkan jatidiri bangsa.

Kenyataan kebijakan pendidikan yang demikian makin diperburuk oleh lingkungan politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang telah dikemukakan di bagian awal tulisan ini.Pendidikan haruslah mengembangkan manusia dengan nilai-nilai kemanusiaannya.

Nilai kemanusiaan tersebut dibangun pada masing-masing individu peserta didik dalam suatu kerangka besar yang dinamakan jatidiri bangsa.

Pengembangan manusia dengan kerangka jatidiri bangsa ini akan menjadikan modal besar bagi bangsa untuk terus berkembang, mampu melindungi kehidupan kebangsaan yang positif, bersaing dan berkontribusi dalam kehidupan antar bangsa.

Pengembangan manusia dengan kerangka jatidiri bangsa ini akan memberikan dasar yang kuat dalam mengembangkan cita-cita bangsa yang tertuang dalam Pancasila. Pendidikan sejarah adalah pendidikan yang berkaitan dengan manusia dan kemanusiaan. Peristiwa sejarah adalah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Peristiwa sejarah menggambarkan perjuangan, keberhasilan, dan kegagalan manusia dalam menegakkan jatidiri bangsanya. Peristiwa sejarah bukanlah perjuangan seseorang untuk dirinya tetapi selalu untuk kehidupan bangsanya.

Pahlawandan kepemimpinan yang ditulis dalam peristiwa sejarah adalah orang-orang yang hidup dalam komunitas yang dinamakan bangsa.

Oleh karena itu materi pendidikan sejarah adalah materi yang lengkap menggambarkan perjalanan kehidupan kebangsaan dari mulai kehidupan awal sebelum suatu kehidupan bangsa terbentuk, terbentuknya suatu kehidupan kebangsaan, dan perjalanan kehidupan kebangsaan itu dalam mengembangkan jatidirinya.

Keberhasilan dan kegagalan adalah suatu dinamika yang harus dipelajari henerasi baru untuk dijadikan pelajaran dan dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih baik dalam memberikan warna jatidiri bangsa.Perjalanan kehidupan kebangsaan Indonesia ditandai oleh perjuangan yang penuh pengorbanan.

Pengorbanan dilakukan ketika para pemikir bangsa di awal abad ke 20 mulai memikirkan adanya suatu bangsa baru di wilayah terbentang luas yang masih dijajah Belanda.

Siapa mereka dan mandat dari siapa yang mereka miliki sehingga berani mengucapkan sumpah tersebut. Mereka bukanlah pewaris kerajaan-kerajaan Nusantara yang secara tradisional memiliki wilayah yang mereka namakan Indonesia.

Mereka bukanlah pewaris kerajaan-kerajaan Nusantara yang berhak untuk mengatakan bahwa bangsa ini bersatu dan menjadi bangsa Indonesia.

Mereka juga bukanlah pewaris kerajaan-kerajaan Nusantara yang masing-masing memiliki bahasanya tetapi dengan rela melepaskan identitats itu untuk mendapatkan identitats baru dengan bahasa baru yang dinamakan bahasa Indonesia.

Tetapi para pemuda ini mengambil resiko. Mereka mempetaruhkan segala yang mereka miliki untuk memiliki bangsa baru dengan identitas baru. Mereka perjuangan bangsa baru itu dengan segala identitas baru melalui berbagai cara yang mereka tahu dan mampu.

Memang pada mulanya bentuk-bentuk perjuangan itu belum jelas tetapi lama kelamaan menjadi semakin mengkristal yaitu dengan lahirnya berbagai partai yang bersifat nasional. Ikatan perjuangan yang semula berdasarkan unsur lokal dilebur oleh sumpah tersebut dan digantikan dengan ikatan baru yang tidak lagi bersifat premordial.

Organisasi baru dengan warna ikatan baru dijadikan dasar untuk memperjuangkan kelahiran bangsa baru. Konflik pun terjadi antara para pemuda yang penuh semangat kebangsaan dengan Belanda yang merasa memiliki wilayah.

Puncak dari perjuangan tersebut tetapi bukan puncak dari perjuangan kehidupan bangsa Indonesia, melahirkan suatu dasar baru bagi perjuangan berikutnya yaitu pernyataan kemerdekaan.

Pernyataan kemerdekaan ini merupakan suatu bekal utama untuk membangun kehidupan baru yang dicita-citakan. Tentu saja pernyataan kemerdekaan ini menimbulkan kemarahan fihak Belanda yang merasa masih berhak atas wilayah ini.

Bukankah Hindia Belanda yang dinyatakan sebagai wilayah Indonesia itu hasil peperangan yang panjang yang dilakukan Belanda sehingga menjadi suatu wilayah kesatuan dibawah Pemerintah Hindia Belanda.

Bukankah fihak Belanda harus menghabiskan biaya dan nyawa untuk mendapatkan daerah tersebut dan telah memberikan hasil yang nyata bagi kehidupan bangsa Belanda di Eropa.

Oleh karena itu adalah sesuatu yang wajar kalau fihak Belanda marah dan tentu saja adalah sesuatu yang lebih wajar lagi ketika bangsa baru ini bangkit untuk mempertahankan hasil perjuangan membentuk bangsa baru ini.

Konflik memang selalu mewarnai suatu perjalanan sejarah ummat manusia dan tidak terkecuali sejarah perkembangan kebangsaan Indonesia. Sayangnya, tafsiran terhadap konflik yang sering bersifat hitam putih dan penuh dengan rasa dendam.

Pemerintahan penjajahan (Belanda, Inggeris, Jepang) selalu digambarkan dalam sisi buruknya sebagai penyebab kesengsaraan rakyat. Tidak ada kebaikan yang pernah dilakukan oleh pemerintah penjajahan terhadap bangsa Indonesia.

Peristiwa Tanam Paksa digambarkan sebagai penderitaan rakyat Indonesia yang sangat dahsyat sementara keuntungan bagi Indonesia dalam posisi ekonomi saat sekarang dengan adanya tanaman baru seperti kina, teh, kopi, dan sebagainya tidak pernah dikemukakan.

Demikian pula dengan keuntungan adanya pengenalan terhadap kegiatan bisnis bersifat perusahaan besar yang diperkenalkan melalui perkebunan swasta seperti perkebunan teh.

Keuntungan penjajahan dalam melahirkan semangat kesatuan dan persatuan sehingga menimbulkan keinginan bersatu sebagai bangsa tidak juga dikemukakan dengan baik. Di masa kemerdekaan, ketika terjadi konflik antara daerah dengan pemerintah pusat maka tafsiran semacam itu dilanjutkan.

Daerah adalah bagian yang serba salah sedangkan pusat adalah yang serba benar sehingga pusat memiliki segala legalitas untuk menegakkan kekuasaannya terhadap daerah termasuk menggunakan berbagai cara.

Pembenaran terhadap apa yang dilakukan pemerintah pusat menyebabkan sisi-sisi positif dan kebenaran dari gerakan daerah dalam penentangan terhadap pemerintah pusat tidak ditonjolkan atau bahkan ada kecenderungan untuk diabaikan seperti halnya dengan sisi-sisi negatif dari pemerintah pusat dalam setiap tindakannya terhadap pemerintah daerah yang tak pernah diungkapkan.

Cerita sejarah nasional Indonesia dalam tafsiran resmi selalu pula diwarnai oleh gambaran hitam putih dan penuh kebencian terhadap masa lalu.

Pemerintahan penjajahan adalah pemerintahan yang penuh dengan kesalahan dan pemerintahan Republik Indonesia penuh dengan kebenaran. Ketika sejarah negara Republik Indonesia berkembang dan muncul Republik Indonesia Serikat (RIS) umurnya sangat singkat dan buku teks belum sempat ditulis kembali dengan visi pemerintah yang baru sehingga tidak diketahui bagaimana pandangan pemerintah RIS terhadap pemerintah RI yang lahir sebelumnya.

Setelah RIS bubar dan pemerintah kembali ke negara kesatuan Republik Indonesia, keberadaan pemerintah RIS merupakan suatu masa gelap.

Pemerintah Republik Indonesia dengan sistem pemerintahan parlementer menjadi suatu gambaran keberhasilandalam kehidupan ketatanegaraan republik yang masih muda tersebut.

Ketika keluar dekrit dan Indonesia kembali ke Undang-Undang dasar 45 dan terlebih-lebih pada waktu pemerintahan di masa demokrasi terpimpin (MANIPOL-USDEK), pemerintahan parlementer liberal dianggap sebagai suatu kesalahan dan penyimpangan dari keinginan bangsa Indonesia.

Pada masa Orde Baru maka pemerintahan lama yang diberi label Orde Lama berada pada sisi hitam dari penafsiran dan pemerintah yang menggantikannya (Orde Baru) berada padasisi putih.

Segala kesalahan pemerintah Orde Lama dijadikan tema sajian utama dan rasa kebencian terhadap pemerintahan Orde Lama dikembangkan. Keterkaitan yang erat antara pemerintahan Orde Lama dengan komunis menjadikan kebencian itu menjadi lebih besar dan warna hitamnya semakin kental.

Pada masa kini dimana reformasi bergulir dan menjadi warna kuat dan dominan dalam gerakan masyarakat dan pemerintah, suasana kebencian terhadap Orde Baru muncul dan bukan tidak mungkin akan menjadi tema utama dalam ceritasejarah yang disajikan. Upaya menghitamkan masa lalu diperkuat oleh tindakan beberapa pelaku sejarah masa lalu itu pula.

Para pemimpin yang terlibat dalam pemerintahan penjajahan Belanda dan Jepang berupaya membersihkan diri dan mengatakan pula bahwa apa yang telah terjadi itu merupakan suatu lembaran sejarah yang harus dimusuhi.

Para pemimpin Orde Lama banyak yang mencoba mencela apa yang telah dilakukan pemerintahan Orde Lama dimana yang bersangkutan turut di dalamnya. Kenyataan yang sama terjadi pula ketika pemerintahan Orde Baru ditumbangkan dan Indonesia memasuki masa reformasi.

Sikap seperti ini mendorong penulisan buku teks yang memang belum mampu mengembangkan suatu sikap bahwa semua peristiwa itu bagian dari kehidupan bangsa ini dan menjadi bagian dari kehidupan kita saat sekarang.

Bagaimana sikap kita dalam mewarisi peristiwa tersebut dan bagaimana dalam menjadikan peristiwa tadi sebagai suatu kebersamaan.

Dalam posisi yang demikian maka pendidikan sejarah kehilangan kekuatan dalam membangun jatidiri bangsa. Membenci masa lalu bangsanya bukanlah jatidiri bangsa yang dilandasi Pancasila.

Pancasila mengajarkan adanya perbedaan, penghargaan terhadap perbedaan dan upaya untuk mencapai mufakat.

Upaya untuk mencapai mufakat adalah suatu bentuk jatidiriyang unggul. Musyawarah mufakat sebagai seuatu yang harus mengendalikan kehidupan kebangsaan dalam makna yang paling positif.

Kelemahan pendidikan sejarah ditambah dengan kenyataan bahwa sejarah telah dikerdilkan menjadi pendidikan tentang angka tahun peristiwa, nama peristiwa, nama pelaku, dan jalannya peristiwa.

Jalannya peristiwa digambarkan sangat kering sehingga peserta didik mengalami kesulitan untuk mengambil teladan dan makna dari apa yang terjadi. Kesediaan para pemimpin untuk berkorban tidak pernah diungkapkan sehingga seolah-olah mereka berjuang dalam suatu situasi yang tanpa nilai, tanpa masyarakat, tanpa ideologi.

Ketika seorang pemimpin masa perjuangan kebangsaan ditangkap dan dipenjara maka peristiwa itu ditulis secara datar tanpa ada gejolak emosi apapun, seolah-olah suatu peristiwa yang berjalan begitu saja.

Apa arti pengorbanan yang diberikan ketika seorang pemimpin bangsa masuk ke penjaran penjajah, meninggalkan keluarga, sahabat, dan rekan-rekan perjuangan tidak pernah terusik. Kepedulian akan aspek akademik yang kering, lurus, tanpa mengkaitkan sesuatu dengan emosi telah menjadikan buku pelajaran sejarah menjadi kering.

Demikian dengan proses pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan buku tersebut.Ketika masa revolusi dan para pejuang bersama-sama rakyat mengangkat senjata seadanya maka lukisannya tidak jauh berbeda dari apa yang telah dikemukakan sebelumnya.

Kekurangan makanan, mandi yang merupakan suatu kemewahan, putusnya hubungan dengan keluarga, orangtua, dan bahkan kekasih bukan sesuatu yang memenuhi kriteria ilmiah untuk diungkapkan dan karenanya tidak tercantum dalam buku pelajaran sejarah.

Peristiwa demi peristiwa digambarkan berlalu dalam suatu urutan waktu yang kronologis tanpa beban emosi dan tanpa semangat. Buku-buku pelajaran sejarah sudah kehilangan aspek kemanusiaan karena manusia dianggap hanya sebuah nama, sekedar jumlah, pemegang senjata, dan peserta suatu pertempuran.

Adalah sangat sulit dan bahkan tidak mungkin jika anak mau belajar dari sejarah yang dilukiskan dengancara demikian.

Demikianlah informasi tentang. Posisi Pendidikan Sejarah Saat Sekarang. Semoga informasi bermanfaat bagi pengunjung kami dan pembaca. sekian dan Terima kasih.

0 Response to "Posisi Pendidikan Sejarah Saat Sekarang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel